Kompetisi WEB Kompas MuDA & AQUA:
Dalam posting sebelumnya “Air Bukan untuk Saya Saja” kita telah membahas salah satu kebiasaan buruk Manusia yaitu kurang bisa memanfaatkan air dengan benar. Kita dapat mengerti dan menyimpulkan bahwa masih banyak yang seharusnya kita lakukan. Melakukan hal-hal itu bukannya mudah, tetapi sulit karena harus merubah kebiasaan. Namun sekarang kita sekarang mencoba untuk mendiskusikan Kebiasaan buruk Manusia Satu lagi.
Ini menjadi salah satu sumber mala petaka yang sering terjadi. Membuang sampah sembarangan menjadi salah satu kebiasaan buruk yang sangat mengkuatirkan. Mengapa begitu?? Banyak Sampah yang telah memenuhi sungai, danau bahkan Lautan sekalipun. Selain membuat tidak enak di pandang juga berdampak dengan kerusakan linkungan.
Sebelum kita membahas lebih jauh lebih baik kita membahas kalimat “Membuang Sampah Sembarangan” yang akan dirubah menjadi “Meletakan Sampah pada Tempatnya dan Menjadi Berkah”. Tapi yang saya garis bawahi adalah kata membuang yang diganti dengan meletakan. Karena kata yang satu ini juga menjadi sumber munculnya kebiasaan buruk atau kurang tepat yang satu ini. Membuang Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia WJS Poerwadarminta (1999) dan KBBI, berarti (1)melemparkan, melemparkan sesuatu karena tidak berguna lagi, (2)mencampakkan, (3)menghilangkan, (4)menghapuskan, (5)menyia-nyiakan, (6) memasukkan ke dalam keranjang sampah. Dari arti kata itu kita menyimpulkan bahwa itu digunakan pada objek yang tidak berguna lagi dan hal itu berkonotasi negatif. Anggapan tidak berguna lagi membuat kita dengan mudahnya membuangnya kemanapun. “Bukankah ini tidak berguna lagi untukku jadi untuk apa lagi” itulah yang dipikiran ketika kita membuang sampah sembarangan. Namun Apa jadinya jika kita berfikir bahwa sampah itu ada manfaatnya. Bukan kah itu bisa merubahnya?? Bukankah di dalam hidup ini sebenarnya tidak ada yang tidak berguna. Kotoran saja bisa digunakan mejadi pupuk apalagi yang selama ini kita anggap sampah. Dengan teknologi yang maju sekarang ini dimungkinkan untuk mengolah itu semua. Menjadi salah satu pilihan adalah Daur Ulang atau jika sampah basah jadi kompos. So.. masikah tidak berguna coba kita lihat lagi.
Bukan sebuah mustahil sampah kita anggap sebagai suatu objek bermanfaat. Sebagian dari kita sudah menganggap Sampah menjadi berkah. Beberapa contoh kongkret; Pemulung, Penadah barang bekas, pabrik daur ulang dan masih banyak lagi. Sekarang mengapa kita tidak merubah presepsi kita tentang sampah. “Sampah Menjadi Berkah” sama seperti mereka tetapi berbeda caranya. Saya pun merasa kita bisa merubah presepsi kita tentang sampah dengan cara memilah-milah sampah terlebih dahulu. Karena dengan memilah-milah sampah kita kan semakin paham bahwa sampah itu juga memeiliki hakekat yang berbeda-beda. Hal yang paling sering sampah dibagi menjadi dua sampah basah dan kering. Namun yang lebih baik menjadi 3 bagian; pertama, Sampah yang bisa didaur ulang (Kardus, kertas, plastik). Kedua, Sampah dapur (sampah basah yang bisa dibuat kompos). Dan yang terakhir adalah sampah pecah belah.Sampah pertama bisa dijual kembali ke penadah. Atau kalau kita yang ingin membuka usaha (ya…. yang memiliki otak bisnis..) kita bisa mencoba membuka “Bank Sampah”. Bank sampah yang digagas oleh…. Memiliki cara kerja yang cukup mudah. Hanya membutuhkan Tempat untuk menyimpan sampah-sampah itu. Caranya hampir sama seperti bank namun yang ditabung di sini merupakan sampah-sampah daur ulang. Terbukti cara itu memiliki manfaat yang cukup banyak bagi masyarakat. Karena ini juga dapat memotori masyarkat untuk berpandangan bahwa sampah menjadi berkah selain itu masyarakat juga akan dengan sendirinya memilah-milah sampah. Hal terpenting menghasilkan laba yang cukup menjanjikan.
Sampah kedua dapat kita buat menjadi kompos baik itu kita olah sendiri atau yang lebih simple dengan membuat lubang biopori dan memasukan sampah kedalamnya. Bagi yang memiliki halaman rumah yang luas dapat memanfaatkan system biopori ini. Manfaatnya sangat menjajikan yaitu daya serap tanah menjadi lebih besar (menjadi cara menghindari banjir gitulah…) Selain itu biopori dapat membatu kesuburan tanah (termasuk kadar air tanah)info lebih lanjut www.biopori.com. Namun bagi yang tidak punya halaman yang cukup luas dapat membuat kompos skala kecil. Berikut hal-hal yang harus dilakukan:Siapkan peralatan berikut ini Bak plastic atau drum bekas yang bagian bawahnya dilubangi untuk mengeluarkan kelebihan air. bawah dialasi oleh bantal sekam/serabut. atasnya nanti ditutup dengan karung goni atau anyaman bamboo (pokoknya untuk menutupi). Di letakan di tanah atau paving block tapi tidak boleh kena hujan.
Cara Pengomposan:
- Campur 1 bagian sampah hijau,1 bagian sampah coklat (sampah yang mulai membusuk) dan kalau ada serbuk kayu.
- Tambahkan 1 bagian kompos lama atau lapisan tanah atas (top soil) dan dicampur. Tanah atau kompos ini mengandung mikroba aktif yang akan bekerja mengolah sampah menjadi kompos. Jika ada kotoran ternak ( ayam atau sapi ) dapat pula dicampurkan.
- Pembuatan bisa sekaligus, atau selapis demi selapis misalnya setiap 2 hari ditambah sampah baru. Setiap 7 hari diaduk.
- Pengomposan selesai jika campuran menjadi kehitaman, dan tidak berbau sampah. Pada minggu ke-1 dan ke-2 mikroba mulai bekerja menguraikan membuat kompos, sehingga suhu menjadi sekitar 40C. Pada minggu ke-5 dan ke-6 suhu kembali normal, kompos sudah jadi.
- Jika perlu diayak untuk memisahkan bagian yang kasar. Kompos yang kasar bisa dicampurkan ke dalam bak pengomposan sebagai activator.
Keberhasilan pengomposan terletak pada bagaimana kita dapat mengendalikan suhu, kelembaban dan oksigen, agar mikroba dapat memperoleh lingkungan yang optimal untuk berkembang biak, ialah makanan cukup (bahan organic), kelembaban (30-50%) dan udara segar (oksigen) untuk dapat bernapas.
Sampah organic sebaiknya dicacah menjadi potongan kecil. Untuk mempercepat pengomposan, dapat ditambahkan bio-activator berupa larutan effective microorganism (EM) yang dapat dibeli di toko pertanian.
Terakhir sampah pecah belah, sampah ini bisa didaur ulang namun masih jarang yang berminat so… apakah kalian akan mencobanya?? Cara yang cukup mudah Itulah sebabnya mulai sekarang penggunaan kata membuang sampah diganti dengan meletakan sampah pada tempatnya dan menjadi berkah. Dengan seperti itu kata ‘Bad Habit’ itu tidak perlu ada. Banyak hal yang sebenarnya kita bisa lakukan bukan? Ciptakan sendiri ‘Best Habit’-mu karena dengan begitulah negri kita ini akan berkembang bahkan maju. Bukan dimulai dari hal-hal yang besar namun hal-hal kecil seperti ini. Dan yang paling penting adalah pencemaran air akibat sampah akan berkurang. dan ini menimbulkan banyak manfaat natinya... salah satunya terhindar dari banjir.
Selamat Mencoba!!